ENID
← Kembali ke Catatan

Ain Jalut dan Kekalahan Pertama Mongol

Ain Jalut — Mata Air Goliath — meletus pada 3 September 1260 di Galilea, dan biasanya digambarkan sebagai momen ketika ekspansi bangsa Mongol ke barat akhirnya terhenti. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru, tapi bagian yang menarik adalah betapa nyarisnya bangsa Mongol sebelum titik balik tersebut.

Bagaimana Semuanya Berantakan bagi Bangsa Mongol

Menjelang pertengahan abad ke-13, kekaisaran Mongol telah terpecah menjadi beberapa khanate. Hulagu telah merebut Baghdad pada 1258, mengakhiri kekhalifahan Abbasid di barat. Kampanye militer itu luar biasa brutal — khalifah Abbasid dibunuh, kota dihancurkan, serta para cendekiawan dan tabib Persia dibantai di Nishapur.

Lalu bangsa Mongol melangkah terlalu jauh. Mereka sebenarnya tidak pernah berniat menguasai Mesir, dan tidak memiliki kesepakatan apa pun dengan penguasanya. Namun, Kitbuqa, yang memimpin pasukan atas nama Hulagu, tetap merangsek ke Suriah, menundukkan Aleppo dan Damaskus pada awal 1260. Kota-kota itu sebenarnya sudah menyerah, dan pengepungan Damaskus berakhir dengan eksekusi gubernur kota serta sebagian besar warganya oleh bangsa Mongol. Pesan bagi kaum Mamluk sangat jelas: tunduk saja tidak cukup.

Mamluk Menolak Tunduk

Mamluk Sultanate adalah negara yang unik — kasta militer penguasa yang terdiri dari prajurit-budak yang telah menggulingkan majikan Ayyubid mereka sendiri, dan kini mempertahankan Mesir dari invasi yang justru dipicu oleh para pendahulu mereka saat menyingkirkan bekas bawahan bangsa Mongol.

Mereka bergerak ke utara untuk menghadapi Kitbuqa. Fase penentunya terjadi di Ain Jalut, tempat garda depan Mamluk dipimpin oleh Baybars, yang memanfaatkan kondisi geografis setempat dengan sangat baik. Pasukan Mongol berhasil dikalahkan, komandannya tewas, dan sisa-sisa pasukannya mundur menyeberangi Eufratis.

Dampaknya jauh lebih penting daripada pertempuran itu sendiri. Bangsa Mongol mundur sepenuhnya dari Suriah, dan pada 1261 sebuah perjanjian disepakati di Kairo antara Ilkhanate dan Mamluk. Tidak ada pihak yang mampu menaklukkan satu sama lain, dan keduanya hidup berdampingan di perbatasan selama satu setengah abad berikutnya.

Mengapa Ini Penting

  • Mematahkan mitos bahwa bangsa Mongol tak terkalahkan. Bangsa Mongol sebelumnya telah menghancurkan kekaisaran yang jauh lebih kuat dan kuno daripada Mesir — kekhalifahan Abbasid bahkan bertahan berabad-abad lebih lama daripada Roma. Mereka belum pernah dihentikan oleh negara lain dalam pertempuran terbuka.
  • Menyelamatkan Mesir di bawah Mamluk dan, dampaknya, kelangsungan politik Mamluk sebagai dinasti.
  • Menetapkan garis perbatasan antara Mamluk Sultanate dan Ilkhanate yang membentuk dinamika politik kawasan Levant selama 150 tahun.
  • Menjadi pengingat yang baik terhadap anggapan populer bahwa bangsa Mongol adalah kekuatan yang tak terbendung. Mereka adalah salah satu kekuatan militer darat paling tangguh dalam sejarah, tapi mereka tetap bisa kalah saat memaksakan diri terlalu jauh.

Sumber-Sumber Sejarah

Pertempuran ini terdokumentasi dengan sangat baik untuk ukuran era Mongol, karena kedua belah pihak menulis catatannya.

  • Ibn Khaldun punya hubungan dekat dengan istana Mamluk dan catatannya, meski ditulis belakangan, merupakan ulasan paling hidup dari barat.
  • Rashid al-Din, wazir Persia di Ilkhanate, menyusun Jami’ al-Tawarikh (Compendium of Chronicles) dalam skala masif — sumber narasi utama lainnya.
  • Kronik Mamluk Mesir dan historiografi resmi Mamluk yang terus berlanjut memberikan sudut pandang pihak pemenang.
  • Kajian modern sangat terbantu oleh akses ke sumber-sumber Persia dan Arab, serta catatan Tiongkok dan Mongol, yang tidak dimiliki generasi sejarawan sebelumnya.

Satu hal yang perlu diwaspadai saat membaca semua sumber ini: semuanya bermuatan politis. Pihak Mongol menulis untuk istana yang baru saja melakukan pembantaian dan butuh pembenaran, sementara pihak Mamluk menulis narasi kemenangan. Tidak ada pihak yang bersikap netral soal peristiwa 1258.


Bacaan lanjutan

  • David Morgan — The Mongols (edisi ke-1 1986, edisi ke-2 2007)
  • May S. Atwood — The Mongols at War: A History (2012)
  • Peter Jackson — The Mongols and the Islamic World (2017)
  • Thomas T. Allsen — Culture and Conquest in Mongol Eurasia (2001)
  • Sumber primer: Rashid al-Din, Jami’ al-Tawarikh; Ibn Khaldun, The Muqaddimah

Ditulis sebagai catatan bacaan pribadi — pastikan untuk memverifikasi tanggal dan rujukan halaman spesifik pada edisi yang Anda miliki sebelum mengutipnya.