ENID
← Kembali ke Catatan

I Use Arch, BTW

Pendahuluan

“I use Arch, btw” itu setengah candaan, setengah identitas. Catatan ini adalah perjalanan di baliknya: sejak 2024 saya berpindah-pindah distro di ThinkPad untuk mencari yang paling cocok. Tiga tahun kemudian saya akhirnya bisa menjelaskan apa yang diajarkan setiap persinggahan.

Tahun-tahun distro hopping

  • Ubuntu (2024) — Linux pertama yang pernah saya instal. Ia bekerja, dan itulah tepatnya tugas distro pertama.
  • Linux Mint — Ubuntu tanpa sisi kasarnya. Pertama kali desktop terasa seperti milik saya.
  • Fedora — software lebih baru di treadmill yang lebih cepat. Saya belajar seberapa terasa saat segalanya bergerak di bawah kaki.
  • Debian — pelajaran sebaliknya: tidak ada yang bergerak, dan itu justru fitur.
  • Arch — asal muasal meme-nya. Menginstalnya mengajari saya lebih banyak dalam satu akhir pekan dibanding setahun sebelumnya digabung: partisi, bootloader, dan membaca wiki sebelum bertanya.
  • Deepin OS — jalan memutar paling cantik. Indah, asing, dan pengingat bahwa desktop itu soal selera.
  • Pop!_OS — persinggahan pragmatis: gaming, NVIDIA, tiling, tanpa drama.
  • EndeavourOS — Arch tanpa ujian instalasi. Cukup nyaman sampai saya hampir menetap.
  • Linux Mint, lagi — lingkarannya tertutup. Setelah mengejar yang terbaru dan yang tersulit, saya memilih yang tidak menghalangi jalan.

Apa yang diajarkan Linux

Sebelum Linux saya tidak pernah mempartisi disk, memperbaiki bootloader rusak, membaca system log untuk menyelesaikan masalah sendiri, atau hidup di terminal. Tiga tahun merusak banyak hal — biasanya sistem sendiri, sengaja maupun tidak — mengajari saya semuanya. Distronya tidak pernah jadi intinya; perbaikannyalah intinya.

Referensi

  • DistroWatch — peringkat dan kabar rilis untuk semua distro di atas
  • ArchWiki — dokumentasi yang membuat Arch mungkin bagi saya